Protein Lebih Sederhana
Enzim jamur memecah protein kedelai menjadi asam amino yang lebih mudah diserap tubuh.
Dari lembaran daun pisang di dapur Jawa hingga rak supermarket di Eropa dan Amerika.
Tempe berasal dari Indonesia, diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu, khususnya di Pulau Jawa. Proses pembuatannya unik: kedelai difermentasi menggunakan jamur Rhizopus, menghasilkan tekstur padat dan rasa khas yang tidak dimiliki olahan kedelai lain.
Catatan tertulis mengenai tempe muncul dalam naskah-naskah Jawa abad ke-19, namun kebiasaan memfermentasi kedelai dengan daun waru dan daun pisang diyakini telah dipraktikkan jauh sebelumnya — diwariskan turun-temurun tanpa buku resep, hanya lewat tangan yang terbiasa.
Empat babak penting yang membawa tempe dari dapur rumah menjadi pangan global.
Kedelai rebus dibungkus daun pisang atau daun waru, dibiarkan berfermentasi di ruang hangat. Setiap keluarga punya "ragi" turunannya sendiri.
Perajin tempe bermunculan di kampung-kampung Jawa. Tempe menjadi lauk paling terjangkau yang menopang gizi masyarakat luas.
Ilmuwan pangan menemukan bahwa fermentasi meningkatkan daya cerna protein, menurunkan asam fitat, dan menghasilkan vitamin B kompleks.
Tempe diakui sebagai sumber protein nabati global, menjadi menu wajib dalam pola makan vegan dan vegetarian di berbagai negara.
Yang terjadi selama 36–48 jam di ruang fermentasi bukan sekadar perubahan bentuk.
Enzim jamur memecah protein kedelai menjadi asam amino yang lebih mudah diserap tubuh.
Kadar asam fitat berkurang sehingga mineral seperti zat besi dan zink lebih mudah dimanfaatkan.
Fermentasi menghasilkan vitamin B kompleks, termasuk B12 yang jarang ada pada bahan nabati.
Kami meneruskan warisan itu dengan cara yang bisa dipertanggungjawabkan: proses terkontrol, kemasan bersih, dan bahan yang jelas asal-usulnya.
Lihat Proses Produksi KamiKami melayani rumah tangga, warung, restoran, katering, hingga distributor wilayah.